Apple Masih Memimpin, Tetapi Smartwatch China Kian Digemari. Bagaimana Tren di Indonesia?
Pasar smartwatch global terus tumbuh pada 2026 dengan Apple masih menjadi pemimpin, sementara merek-merek asal China semakin agresif merebut pangsa pasar
Persaingan industri smartwatch dunia semakin ketat. Jika beberapa tahun lalu pasar wearable didominasi Apple dan Samsung, kini produsen asal China seperti Huawei dan Xiaomi mulai menjadi penantang serius berkat kombinasi harga yang lebih terjangkau, fitur kesehatan yang semakin lengkap, serta daya tahan baterai yang lebih lama.
Data terbaru Counterpoint Research menunjukkan Apple masih menjadi merek smartwatch terbesar di dunia dengan pangsa pasar sekitar 23 persen pada kuartal pertama 2026. Posisi kedua ditempati Huawei dengan 17 persen pangsa pasar, disusul sejumlah pemain lain yang terus memperkuat posisinya di pasar global.
Secara global, pasar smartwatch juga kembali tumbuh setelah sempat mengalami perlambatan. Counterpoint mencatat pengiriman smartwatch dunia meningkat 4 persen sepanjang 2025 dan berlanjut pada awal 2026, didorong oleh meningkatnya minat konsumen terhadap fitur kesehatan, kebugaran, dan integrasi kecerdasan buatan (AI).
Konsumen Indonesia Semakin Menyukai Wearable
Tren yang terjadi secara global juga mulai terlihat di Indonesia. Smartwatch kini tidak lagi dipandang sebagai perangkat pelengkap smartphone, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.
Pertumbuhan pengguna smartwatch di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan digital dan aktivitas olahraga.
Pengamat industri gadget menilai ada tiga faktor utama yang mendorong pertumbuhan smartwatch di Indonesia.
Pertama, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memantau kesehatan secara mandiri. Fitur seperti pengukur detak jantung, kadar oksigen dalam darah, kualitas tidur, hingga pemantauan aktivitas olahraga menjadi daya tarik utama.
Kedua, harga perangkat yang semakin terjangkau. Jika dahulu smartwatch identik dengan produk premium berharga jutaan rupiah, kini konsumen bisa mendapatkan perangkat dengan fitur kesehatan lengkap di kisaran Rp500 ribu hingga Rp2 juta.
Ketiga, meningkatnya penggunaan ekosistem perangkat pintar yang saling terhubung, mulai dari smartphone, earbud, hingga smartwatch.
Apple Dominan, Xiaomi dan Huawei Tumbuh Cepat
Meski Apple masih menjadi simbol smartwatch premium, pasar Indonesia memiliki karakter yang berbeda dibanding Amerika Serikat atau Eropa.
Harga menjadi faktor yang sangat menentukan keputusan pembelian. Karena itu, merek seperti Huawei, Xiaomi, Amazfit, dan Redmi Watch cukup populer di kalangan konsumen Indonesia karena menawarkan fitur yang relatif lengkap dengan harga yang lebih terjangkau.
Di sisi lain, Samsung tetap menjadi pilihan utama pengguna Android kelas menengah hingga premium, sementara Apple Watch masih mendominasi segmen pengguna iPhone.
Analis menilai pertumbuhan smartwatch di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan semakin dipengaruhi oleh fitur kesehatan berbasis AI. Saat ini produsen berlomba menghadirkan kemampuan analisis kesehatan yang lebih canggih, mulai dari pemantauan kualitas tidur, deteksi gangguan jantung, hingga rekomendasi aktivitas harian berbasis data pengguna.
Dari Gaya Hidup Menjadi Alat Kesehatan
Perubahan terbesar di industri wearable saat ini adalah pergeseran fungsi smartwatch dari sekadar alat notifikasi menjadi perangkat kesehatan pribadi.
Lembaga riset memperkirakan nilai pasar smartwatch global akan terus tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan karena semakin banyak konsumen yang menggunakan perangkat tersebut untuk memantau kesehatan dan kebugaran secara real-time.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang pasar yang besar. Dengan jumlah pengguna smartphone yang mencapai ratusan juta orang dan semakin meningkatnya kesadaran hidup sehat, smartwatch diperkirakan akan menjadi salah satu kategori gadget dengan pertumbuhan tercepat dalam beberapa tahun mendatang.





